Aku belum bisa menceritakan keindahan dari cerita kita. Yang
aku tahu aku bahagia dengan hubungan ini. Hubungan yang tidak bisa setiap
harinya menatap wajahmu. Hubungan yang harus setia pada barisan huruf di layar
kaca HP ku. Hubungan yang mengharuskan aku untuk menentang hati nuraniku
sendiri. Iya hubungan ini menentang hati nurani. Bagaimana tidak ? jika aku
mencintaimu dan aku juga harus tersenyum pada setiap laki-laki yang di pilihkan
orang tuaku? Iya. Ini masih demi hubungan kita yang hingga sekarang belum dapat
di ceritakan keindahannya pada khalayak. Sampai sekarang aku hanya bisa menebak-nebak
sakit yang akan ku rasakan jika posisimu ku gantikan. Melihat pasangannya di
perkenalkan dengan laki-laki lain yang lebih dulu meniti sukses tentu bukan hal
yang indah. Dan laki-laki ku masih cukup kuat bertahan menerima rengekanku saat
aku mulai lelah dengan permainan orangtuaku. Bayangkan kelelahannya harus
hijrah dari kota ke kota dan sesekali menemuiku di kotaku untuk beberapa jam lalu
kembali menghadapi kertas serta barisan huruf dan angka yang cukup untuk membuat
mual isi kepala. Dia masih tersenyum seperti biasa ketika harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan bodohku. Dan bahu itu masih selalu menjadi tempat yang
paling nyaman saat aku mulai letih dengan beban kangen yang sudah menumpuk
sampai pertemuan kita.
Pada intinya hubungan ini masih bertema “menunggu” . iya sejak awal begini . penantian apa lagi yang kita
dustakan? Dari awal ya dari awal. Hubungan yang selalu berdialogkan “diam” .
iya sejak awal hubungan ini kita hanya diam. Ingat saat semua masih tentang aku
dan kamu. Saat kita masih malu mengatakan cemburu. Saat kita mulai saling
menilai dalam tenang. Saling mengagumi namun berusaha menepisnya dalam lelucon
. sampai akhirnya kita sama-sama takut kehilangan. kini kita masih diam dan
sembunyi namun saling menjaga. Dan laki-lakiku
masih berdiri tegak, menggandeng tanganku melewati lorong gelap yang panjang. Kita
sama-sama tidak tahu tempat apa di balik kegelapan ini. Mungkinkah sebuah jalan
raya yang menuju ke kota, sebuah lautan biru atau hutan belantara. Kita tidak
pernah tahu. Yang kita tahu tangan kita masih bergandengan. Yang kita tahu
bahwa setelah lorong gelap ini terlewati kita masih tetap
berjalan,membangun,jatuh berdiri lagi. Dan yang kita tahu setelah lorong gelap
ini pasti ada cahaya yang kita rindukan selama kita berjalan bersama di
kegelapan. Karena kita hanya ingin cahaya dan tangan yang masih bergandengan. Karena
perjalanan ini tidak akan selesai cukup sampai setelah kita mendapat kan
cahaya. Karena selama berjalan pada lorong gelap kitapercaya bahwa cahaya
itu akan ada, setelah kita berjalan dalam terang kita juga yakin malam mungkin
akan datang sekalipun ia masih berbaik hati berbagi cahaya bulan bintang dan
sedikit api unggun untuk kehangatan. Selama tidak ada yang bersikap sok
pahlawan menjadi penghubung tanganmu dan tanganku di perjalanan kita, aku rasa
semua akan baik-baik saja.
“bahwa tidak ada kegagalan yang abadi,begitu juga
kesuksesan,ketika kita gagal maka kejarlah kesuksesan dan ketika kita sukses maka
siapkanlah menghadapi kegagalan”
Dan perjalanan kita masih berlanjut, lorong hitam ini mulai
kehilangan kegelapannya. Sebentar lagi dunia
baru akan kita tempuh. Tetap seperti ini. Jangan biarkan cahaya menyilaukan
matamu dan membuatmu melepaskan tanganku. Karena pada gelap, kita tidak pernah
saling melepaskan,bukan?
say "so damn i miss u my 26 "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar